Showing posts with label Pengalaman. Show all posts
Showing posts with label Pengalaman. Show all posts

Wednesday, May 1, 2013

Pengalaman Interview Chevening


Jumat, 26 April 2013 adalah jadwal wawancara untuk beasiswa Chevening. Saya tidak pernah menyangka bisa lolos lagi ke tahap interview setelah setahun yang lalu juga gagal lolos dari tes yang satu ini. Sewaktu menerima email panggilan interview, saya sangat senang karena satu tahapan telah dilewati. Namun disisi lain saya juga agak khawatir karena di tahap intervew inilah banyak pendaftar yang berjatuhan.

Seminggu sebelum tes, waktu luang saya habiskan untuk membaca blog-blog mereka yang pernah ikut wawancara Chevening sebelumnya. Tak jarang banyak yang menceritakan kegagalannya. Saya pun berusaha mempersiapkan diri untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul pada saat wawancara. Pokoknya saat itu pikiran saya pusatkan untuk persiapan interview. 

Sayangnya...sehari sebelum wawancara, suami jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit. Tentu saja saya panik, bahkan terbesit dalam hati untuk membatalkan saja keikutsertaan saya dalam tes wawancara itu. Malam itu saya habiskan di Rumah Sakit untuk menjaga suami. Pikiran menjadi tak fokus lagi, karena saat itu yang saya pikirkan hanya kondisi suami yang belum juga membaik. Saya pun berujar kepada suami "saya tidak usah ikut wawancara ya?" Suami malah melarang dan menyuruh saya untuk pulang dan mempersiapkan diri untuk interview. Saya pun nurut saja, walaupun dalam hati berat rasanya meninggalkan dia di Rumah Sakit.

Hari untuk tes interview pun tiba juga. Saya bergegas pulang pagi-pagi sekali untuk berganti pakaian dan mempersiapkan dokumen yang diperlukan. Wawancara hari itu dilaksanakan di Hotel Aston Makassar. Ketika memasuki pintu hotel, perasaan jadi tdak karuan. Gugup dan khawatir juga karena sehari sebelumnya saya tidak mempersiapkan diri. Ditambah lagi kondisi psikologis yang tidak begitu baik karena memikirkan suami yang lagi sakit. Semua persiapan yang telah jauh saya lakukan pun terasa tidak berpengaruh.

Tiba didepan pintu ruangan tes, saya bertemu dengan seorang bapak yang juga menunggu giliran untuk diwawancarai. Beliau berasal dari daerah Sulawesi Tenggara. Pintu ruangan pun terbuka dan seorang bule berpakaian rapi pun memanggil nama bapak itu dan kemudian mempersilahkan beliau masuk. Ah...perasaan gugup pun semakin besar, dag dig dug serrrr :-D 

30 menit pun berlalu, dan giliran saya tiba juga. Si bule tersenyum dan mempersilahkan saya masuk. Rupanya didalam ada dua interviewer lainnya, yang satu bule perempuan yang cantik dan yang satu lagi katanya orang dari kedutaan Inggris. Sebagai pembuka mereka menjabat erat tangan saya dan mempersilahkan saya untuk minum. Yaa karena saat itu emang lagi haus, jadilah saya meminum air di gelas itu sampai habis hehehe :-D
Si bule yang laki-laki pun memulai sesi wawancara dengan meminta saya memperlihatkan Letter of Acceptance dari salah satu universitas di UK. Untungnya saya sudah berhasil mendapatkan LoA itu satu bulan sebelum interview. Selanjutnya si bule mulai menanyakan tentang jurusan yang ingin saya ambil, kebetulan saat itu jurusan yang saya pilih adalah Teknologi Pendidikan. Mulailah si bule menanyakan alasan saya memilih jurusan itu, apakah jurusan itu akan bermanfaat untuk institusi tempat saya bekerja, dan apa yang akan saya lakukan setelah lulus. Saya pun mencoba menjawab seadanya, sesuai dengan yang sudah saya persiapkan, walaupun saya menyadari masih banyak kurangnya disana-sini. Ditambah lagi perasaan gugup yang tidak reda juga...huft!

30 menit pun berlalu. Si bule mengatakan sesi interview untuk saya sudah selesai. Sambil tersenyum si bule menjabat tangan saya dan tak lupa mengatakan "good luck!". Saya pun keluar ruangan dengan hati lega. Apapun hasilnya yang penting sesi ini sudah saya lakukan dan menjadi pengalaman berharga. 


Tuesday, February 26, 2013

Pengalaman Ikut Tes iBT TOEFL


Dua kata untuk menggambarkan kesan saya ketika pertamakali mengikuti tes iBT TOEFL "Lelah dan Puyeng"

Pagi itu, tanggal 24 Februari 2013, saya dijadwalkan mengikuti tes iBT di AlfaLink Makassar. Pagi itu saya muter-muter untuk nyari lokasi tesnya, dan akhirnya nemu juga. Jam 8 teng saya sudah tiba dilokasi. Pintu gedung juga masih tertutup, padahal tes harus dilaksanakan tepat jam 9 pagi. Saya pun menunggu didepan gedung hingga setengah jam sebelum akhirnya pintu dibuka oleh pemilik gedung.

Saya pun masuk ke gedung itu, duduk sambil menunggu adminnya menyalakan komputernya. Kemudian si admin menanyakan passport dan meminta saya untuk berdiri didinding ruangan. Awalnya bingung, eh ternyata buat ngambil foto langsung dari webcamnya. Sambil menunggu peserta lainnya, saya duduk manis di depan meja si admin. Jam sudah menunjukkan pukul 9.45, tapi peserta tes yang hadir hanya saya dan seorang lelaki setengah baya. Si admin pun meminta kami menunggu di lantai dua, tepatnya di ruangan tempat tes akan dilaksanakan.

Di ruangan itu beberapa komputer berjejer rapi, lengkap dengan headphonenya. Saya pun memilih untuk duduk di sudut ruangan. Selang beberapa menit, ada dua orang peserta lagi yang masuk dan memilih duduk di tempat yang mereka inginkan. Si admin pun mulai menjelaskan tata tertib selama tes berlangsung. Kami diberi kertas, masing-masing 4 lembar. Katanya sih untuk digunakan untuk mencatat poin-poin penting pada tes listening. Selanjutnya kami dipersilahkan melakukan registrasi online langsung ke ETS dan kemudian mengetes headphone yang akan kami gunakan.

Pada listening section saya cukup kewalahan karena percakapannya yang panjang-panjang dan temponya yang juga cepat. Saya pun berusaha menggunakan kertas yang diberikan, mencoba mencatat poin-poin penting dari dialog yang diperdengarkan. Bukannya membantu, saya malah merasa kegiatan menulis poin penting  itu mengganggu konsentrasi saya untuk menangkap isi percakapan. Saya pun memilih untuk berhenti menulis dan mendengarkan dialog dengan saksama. Listening section pun cukup membuat saya stress.

Beralih ke speaking section, saya sudah agak tenang walaupun khawatir karena waktu yang diberikan untuk berpikir hanya 15 detik, dan waktu untuk berbicara hanya 60 detik. Belum lagi semakin kesini pertanyaannya malah semakin sulit. Tapi untung saja beberapa hari sebelum tes saya sudah mencoba latihan menggunakan program iBT Practice dari buku ETS. Section ini pun sayan lewati dengan perasaan tidak karuan, sambil berharap hasilnya nanti akan memuaskan.

Untuk reading section, bacaannya hampir semua panjang-panjang dan berkaitan dengan dunia science. Seingatku saat itu topik di salah satu bacaan membahas mengenai planet Mars. Model pertanyaannya juga lebih variatif. Kalo biasanya hanya berbentuk pilihan ganda, untuk iBT kita juga diminta untuk memilih beberapa pernyataan yang menjadi summary dari bacaan itu. Ada juga pertanyaan yang meminta kita memasukkan sebuah kalimat ke dalam paragraf. Pada bagian readinglah saya merasakan puyeng yang teramat sangat  karena harus membaca teks yang panjang di  komputer.

Nah...kalo writing hanya ada 2 bagian. Untuk bagian yang pertama, menulis berdasarkan listening yang diperdengarkan serta  bacaan yang disajikan. kita hanya diminta menuliskan sekurang-kurangnya 150 kata. Sementara bagian kedua, kita diminta untuk menuliskan berdasarkan pendapat dan pengalaman pribadi sekurang-kurangnya 300 kata. Menurut saya, bagian kedua agak lebih mudah daripada bagian yang pertama.

Itulah tadi penjelasan singkat tentang bagian-bagian tes iBT TOEFL. Berdasarkan pengalaman saya itu, ada beberapa tips yang ingin saya bagi:
1. Sehari sebelum tes sebaiknya istirahat yang cukup, karena tes ini betul-betul menguras tenaga dan pikiran
2. Usahakan sarapan dulu sebelum tes, supaya tidak kelaparan pas lagi tes, soalnya tesnya memakan waktu  hingga 3-4 jam
3. Cobalah membiasakan diri mengerjakan tes iBT dengan menggunakan software-software dari buku iBT preparation, agar tidak kaget dan bingung dengan model soalnya yang lebih variatif
4. Sebelum tes berdoa dulu supaya bisa lebih tenang :)

Sunday, October 3, 2010

Jilbabku in Bellingham



Tak terasa akhirnya hampir 2 bulan aku berada di kota kecil ini, tempat dimana aku akan tinggal hingga 10 bulan kedepan.

Bellingham, kota kecil di daerah barat laut Amerika, dengan penduduk kurang dari 100.000. Hal yang membuatku takjub adalah karena bangunannya yang teratur, rumah-rumah dengan desain yang unik (menurutku), dan jalanannya yang sangaaat bersih. "Put your G in Bellingham" kata mereka, tapi sampai sekarang aku tak tahu maksudnya apa.

Anyway, hampir setiap hari aku berjalan menyusuri jalan-jalan disekitar Whatcom College, tempatku menimba ilmu, tentunya masih dengan jilbab yang selalu kukenakan.Mungkin terlihat aneh bagi mereka melihat seseorang sepertiku memakai jilbab, apalagi di daerah yang mayoritas Christian. Sampai saat ini hanya ada dua orang perempuan lainnya yang juga mengenakan jilbab, 1 mahasiswa asal Mesir dan 1 perempuan lagi asal Palestine.

Aku tak tahu apa yang ada dipikiran mereka ketika melihatku memakai jilbab, tapi satu hal yang selalu aku sadari bahwa setiapkali bertemu denganku, mereka melihatku dengan tatapan penuh tanda tanya, dan aku hanya akan berlalu begitu saja meninggalkan mereka dengan kebingungan mereka tentang jilbabku dan kebingunganku tentang apa yg mereka pikirkan.

Menjadi minoritas di Bellingham bukanlah hal yang begitu aku khawatirkan...karena sejauh ini, mereka masih bersikap baik dan ramah ketika bertemu denganku, setidaknya masih ada yang bersedia memberikan senyum indahnya.

Pernah satu waktu...aku dan beberapa CCIP students berjalan-jalan disekitar Fairhaven beach, salah satu tempat rekreasi di Bellingham. Tiba-tiba ada seorang gadis kecil berumur sekitar 4 tahun datang menghampiriku dari belakang dan langsung memegang jilbab yang aku kenakan sambil mengatakan "It's a nice scarf". Aku tersentak, kaget, sambil menoleh kebelakang aku melihat sosok polos itu tersenyum kepadaku. Kemudian ia mengatakan "It's a nicest scarf I've ever seenI like Blue, just like the ocean". Aku benar-benar takjub saat itu, anak berumur 4 tahun mampu berbicara seperti halnya orang dewasa, dan ia tidak melihatku sebagai orang yang aneh karena memakai jilbab di kepalaku...polos dan bersahaja, itulah anak-anak. Sempat berfikir, kenapa mereka tak melihatku dengan cara yang sama seperti anak umur 4 tahun melihatku? melihatku sebagai orang biasa dan tanpa pandangan negatif.

Bukan itu saja...pengalaman bersama jilbab ini pun bertambah, dan mungkin akan terus bertambah sampai aku pulang nanti:

Aku tinggal di lingkungan apartment yang juga banyak ditinggali oleh orang-orang Amerika. Aku punya tetangga...dua mahasiswa yang juga sedang kuliah di Whatcom College, aku lupa namanya.Umurnya sekitar 18 atau 19 tahun. Walaupun kami tinggal berdekatan, tapi sangaat jarang bertemu. Tapi pernah satu sore tak sengaja kami bertemu tepat di depan apartment...mereka menyapa "Hi, How are you doing", aku hanya bisa senyum dan menjawab "I'm doing well. Kemudian salah satu dari mereka bertanya, "do you like party?" dan aku menjawab "sometimes I like party but not really". Yang membuatku kaget adalah pertanyaan mereka setelah itu "May be we can go sometime, hang-out and drink. Aku termenung...melongo...kebingungan...What? mereka gak lihat aku pake jilbab gini...kok bisa ya ngajak aku minum. Dan akhirnya aku mulai menyadari sesuatu bahwa tak semua orang memandang jilbab ini sebagai sebuah identitas bahwa aku adalah seorang muslim, yang punya batasan khusus dalam bergaul dan bertindak, aku bahkan tak yakin mereka mengerti tentang Islam.

Ada satu cerita lagi yang membuatku tak mampu menahan tawa:

Siang itu, setelah jam pelajaran kedua selesai, aku memutuskan untuk tetap tinggal di Computer Lab bersama beberapa teman, mengerjakan beberapa tugas yang belum kuselesaikan. Kemudian ada seorang teman, laki-laki berumur 34 tahun bertanya kepadaku tentang beberapa tugas yang kurang begitu ia pahami, akupun menjelaskan sedikit yang aku tahu. Dan tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan, ia pun bertanya "Do you have cancer?", karena listening skillku yang masih kurang, aku tak begitu jelas mendengarkan pertanyaannya. "Pardon?" aku memintanya mengulangi pertanyaannya, "Do you have cancer?" (dengan pronounciation yang lebih jelas). Aku bingung, sempat terdiam beberapa detik dan kujawab "No." (ini orang kok nanya aku punya kanker atau ngga? gimana to?). Mungkin karena rasa ingin tahunya yang besar, ia bertanya lagi "So, do you have a problem with your hair?", dan kujawab "No" (ini orang kok pertanyaannya tambah aneh ya). "So why do you wear the headcover?". Dan akhirnya aku mengerti apa yang sebenarnya menjadi pertanyaannya...yah JILBAB ini, jilbab yang aku pakai. Saat itu aku hanya bisa menahan ketawa sambil memegang kepalaku (Jadi ni orang mikir aku botak ya?). Dan akhirnya aku kembali menyadari sesuatu dan bertanya dalam hati "berapa orang dari mereka yang berpikir aku mengidap kanker? jadi tatapan penuh tanda tanya yang selalu aku dapatkan itu, apakah karena mereka pikir aku mengidap kanker?

Jilbab ini ternyata diinterpretasikan dengan cara yang berbeda oleh mereka...