Showing posts with label Memories. Show all posts
Showing posts with label Memories. Show all posts

Saturday, March 22, 2014

Berkunjung ke Yogyakarta


Ini sebenarnya bukan kunjungan pertama saya ke Jogja. Sebelumnya sudah 2 kali saya ke Jogja dengan tujuan yang sama, nengok suami yang lagi S2 di UGM :)
 
Kunjungan kali ini terasa berbeda karena baru kali ini saya berkesempatan mengunjungi sekaligus mengamati beberapa hal yang ada di Jogja. Salah satu tempat yang saya kunjungi adalah kebun binatang Gembira Loka. Mungkin agak memalukan mengatakan ini, tapi yah seumur hidup saya inilah untuk pertamakalinya saya menginjakkan kaki di kebun binatang. Dulu, setiapkali berencana mengunjungi kebun binatang, selalu saja ada halangan. Senang sekali akhirnya bisa melihat langsung beberapa binatang yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di buku atau di televisi. Berbagai jenis burung dipamerkan di sana, juga binatang buas dan unik lainnya seperti harimau, unta, kanguru, gajah, kera, zebra, ular, dll. Tapi di antara semua binatang itu, yang paling membuat saya takjub adalah ketika melihat langsung seekor unta yang biasanya hanya ada di tanah Arab nun jauh disana. Sayangnya kebanyakan binatang di tempat ini kurus dan kurang bersemangat. Tempatnya pun kelihatan jarang dibersihkan.


Selanjutnya, tempat yang saya kunjungi adalah Keraton Yogyakarta. Sebenarnya ini kunjungan saya yang kedua kalinya. Sebelumnya saya pernah datang ke Keraton Jogja tapi hanya sebentar karena waktu itu datangnya telat, pas gerbang utamanya sudah ditutup. Nah, pada kesempatan ini saya datangnya agak pagi dan pada saat weekend, jadinya bisa ketemu abdi dalem dan juga pengunjung lainnya yang kebanyakan bule. 


Thursday, October 13, 2011

A Day to Remember

The Delta was ready to land at the Seatac Airport. It was 10.25 in the morning. I looked around, and tried to think of what was gonna happen when this plane was landed. My heart beat quite fast. I never imagined that I could finally be in the US. A country that I really wanted to see the most. The stewardess came toward me asking me to fasten the seat belt. Bismillahirrahmanirrahim...that's the only thing I said when I realized the plane was successfully landed. The journey was begun.

I stepped my feet on the land of the US for the first time. Again, I looked around. Everything was just so different to me. I had no idea what to do next. The only thing I remembered was nobody would come to pick me up. The college only gave me the booking code of a shuttle bus. I saw the people were standing in a long queue, waiting for their turns to be interviewed by the officer. I decided to follow them.

Then, a horrible thing happened to me. One of the officers came to me and took me out of the line. He looked at me deeply. “Is there anything wrong with me?” - that's the only question popped into my head at the time. He asked me to sit with the other five men in a different room. A man from Philippine asked me “Is it your first time coming to the US?” Yes, it is. I realized there's something unusual happened to me at the time. I was the only woman got the special interview.

After waiting for an hour, the officer finally called my name. I was so worried thinking of what he was gonna do next. I came toward him speechlessly. He asked me to put off the jacket that I was wearing. I put it on his desk. He looked over all the pockets of the jacket. I told him that I didn't have anything in there, I put all my stuff in my bag. He looked at my backpack suspiciously, but he finally didn't look over it. He spent couple minutes reviewing all the documents I had, such as passport, DS 2019, and Indonesian ID. After reviewing all the documents, the officer then asked me a lot of questions. He asked my parents' name, my parents' job and my purpose for coming to the US. I answered all the questions patiently while hoping that he would let me go soon. But, then, I felt pretty shocked when he asked me to open my "hijab". I never thought that he would ask me to do that. That wasn't right at all. I tried to fill up some courage left inside me and told him that I wouldn't be able to do that. Then he, again, looked at me deeply and said “I just wanna see if you have ears or not”. What...? I couldn't believe that he wasn't sure if I had ears or not. I looked around and found that there were only two people left in the room, me and the Philippines man. The officer was still waiting for my response. “Oh God, I wanna make it faster. I really wanna go out of this room” - my pray at the time. I took a deep breath and then told the officer that I wouldn't open my head cover, but I'd let him touch me instead and make sure that I have ears. He seemed satisfied with that and finally let me go. But, the last thing he said really shocked me. He said “it is a procedure to prevent terrorists from coming to our country”.

While walking to the claim area to find my luggages, I asked myself “Do I really look like a terrorist?”. A tiny little girl, with a small backpack and a letter from US Department of State, suspected as a terrorist. How could they think like that? But then I realized one thing “Is it because of my appearance wearing hijab?” I hoped not, cause we can't judge anybody by their appearance. If that was the reason, I would be very sad. And by those experiences, I promised to myself that I will never ever judge people by what they look like, what they wear or where they are from. 

(Seattle, August 9th, 2010)

Tuesday, July 5, 2011

A Friend of Mine


Aku mengenalnya kurang lebih sebulan yang lalu di koridor Heiner itu...

Tuesday, May 10th, 2011
Hari itu adalah jadwalku untuk ikut serta membantu Steven (an Intern student) di Help Desk. Hanya ada enam orang saat itu: aku, Ben, Tommy, Jay, Steven, dan Jeff. Dan hari itu adalah pengalaman pertamaku di Help Desk. Hanya ada dua costumers yang datang untuk memperbaiki komputernya saat itu. Steven dan Tommy-lah yang turun tangan menyelesaikannya. Yah, sebagai junior aku hanya bisa melihat-lihat saja, aku tahu diri akan kemampuanku yang masih nihil soal komputer. Tak lama, Gary pun datang bersama seorang lelaki bertubuh tinggi dan besar dengan rambut gondrongnya yang ikal. Gary memanggilku sambil berkata “Hi Thya, this is AWB, he is your tutor for the networking class”. Ku tatap lelaki yang berdiri tepat di depanku itu sambil tersenyum. Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan “Hi, I am AWB (spelled Oubi), nice to meet you”. Aku pun menjawab, “I am Thya, nice to meet you too”. Gary pun meninggalkan kami berdua dalam kebingungan ingin mengatakan apa lagi setelah itu. AWB pun mengajakku untuk duduk di sudut ruangan itu untuk membicarakan jadwal tutor kami untuk sebulan ke depan. Dan kami pun sepakat untuk melakukan tutoring pertama di hari Kamis. AWB kemudian mulai menanyakan aku berasal darimana, aku pun dengan santai menjawab aku dari Indonesia. Dan seperti jawaban orang-orang Amerika lainnya yang pernah menanyakan hal yang sama, AWB pun tak tahu Indonesia di mana. Mmm...aku tak heran dengan hal itu. Kemudian ia pun mulai bercerita bahwa ia sebenarnya berasal dari Baltimore, the largest city in Maryland, dan baru pindah 2 tahun yang lalu ke Washington. Ku perhatikan gerak-geriknya saat itu, jujur aku agak khawatir melihatnya. Tangannya yang terus bergetar sambil memutar balikkan handphonenya, cara bicaranya yang kadang cepat kadang lambat, dan matanya yang terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Saat itu kupikir, dia orang yang aneh. Well, whatever!

Sunday, March 13, 2011

White Elephant Gift Exchange

Hari itu tanggal 9 Desember 2010, tepat setelah perkuliahan untuk Fall Quarter selesai, aku mendapatkan sebuah undangan party dari Catalina yang judulnya "Invitation for Holiday Potluck and White Elephant". Pertamakali mendengar kata "White Elephant" aku sempat bingung memahaminya. Yang aku tahu kata "White" itu artinya "Putih", dan "Elephant" artinya "Gajah" = Gajah Putih. Kupukir-pikir mungkin mereka mengundangku untuk menonton sirkus yang didalamnya ada gajah berwarna putih. Tapi ternyata aku salah besar, malah sama sekali tak ada hubungannya...hahaha :D

Setelah kutelusuri lebih jauh, ternyata "White Elephant" ini adalah nama dari sebuah game yang biasa dilakukan di Amerika, terutama ketika libur akan datang. Mereka menyebutnya "Holiday party game". Dalam permainan ini, setiap orang harus membawa sebuah kado yang isinya tidak harus mahal dan besar, karena memang tujuan dari permainan ini hanyalah untuk "having fun". Peraturan dari permainan ini simple saja. Setiap orang akan mendapatkan nomor masing-masing sesuai dengan hasil lot (seperti arisan). kemudian berdasarkan gilirannya, setiap orang diminta untuk memilih: akan mengambil kado yang ada atau mencuri kado dari teman yang telah di buka sebelumnya. Misalnya gini nih...orang pertama mengambil sebuah kado dari kumpulan kado-kado yang ada, kemudian membukanya di hadapan semuanya. Orang kedua bisa memilih, jika ia menyukai kado yang di dapatkan oleh orang pertama, orang kedua dapat mencuri kado itu dari orang pertama dan membiarkan orang pertama membuka kado yang lain. Jika tidak, orang kedua berhak mengambil satu kado lain yang masih terbungkus dan juga membukanya di depan semuanya. Begitulah seterusnya. Akan tetapi ada batasan terhadap hadiah yang ingin dicuri. Satu hadiah hanya bisa dicuri sebanyak 3 kali. Jadi yang berhak memiliki hadiah itu hanya orang ketiga yang berhasil mencurinya.

Saat itu, kami yang diundang berjumlah sekitar 16 orang. Masing-masing orang membawa kado ditangannya. Aku datang membawa kado kecil yang isinya sebuah mangkuk sup kecil lengkap dengan sendoknya (gak modal banget...hehehe). kuletakkan kadoku diantara tumpukan kado yang telah ada. Aku berharap mendapatkan kado yang bagus malam itu. Dan alhasil Alhamdulillah aku mendapatkan sebuah boneka anjing yang lucu...hehehe. Tidak penting hadiah yang didapatkan seperti apa, yang penting kebersamaan dan kegembiraan yang timbul dari permainan ini. Malam itu kami lewati dengan penuh canda dan tawa.

Saturday, November 27, 2010

My First Snow


Mungkin bagi orang seperti aku yang berasal dari daerah tropis, salju merupakan hal yang luar biasa. Jujur, sejak pertama tiba di US, salah satu hal yang paling ingin kulihat adalah "salju". Walaupun aku tahu salju itu hanya gumpalan bubuk-bubuk es yang turun dari langit, tapi melihat dan memegangnya merupakan salah satu pengalaman yang paling kunantikan, hehehe (Katro mode on).

Dan akhirnya, harapan itu terkabul...
Tepat di hari Thanksgiving, salju turun dengan derasnya. Aku tak menyianyiakan kesempatan untuk menikmati salju itu. Aku berjalan keluar apartment sambil memandang takjub melihat segalanya menjadi serba putih di luar sana karena tertutupi salju. Kulangkahkan kakiku di atas salju itu, rasanya seperti menginjak gumpalan es serut yang biasa dijual oleh tukang es campur di Makassar (hehehe...). Aku mengambil segenggam salju dengan tanganku "Wah, ini salju pertamaku! Alhamdulillah akhirnya aku bisa merasakan dan memegangnya langsung". Hampir 2 jam aku menghabiskan waktu di luar hanya untuk menikmati salju itu, berjalan di atas salju dan bermain snowballing :)

Saturday, November 20, 2010

Idul Adha di Bellingham

Idul Adha 1431 H adalah Idul Adha pertamaku yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Di sini, di Bellingham, sebuah kota di US dengan jumlah komunitas muslim yang sangat sedikit, aku di beri kesempatan merasakan Idul Adha dengan suasana yang sangat berbeda. Pertama, karena aku tidak merayakannya bersama keluarga besarku (Aku menangis saat itu). Kedua, karena suasana lebaranpun terasa tak semeriah di Indonesia. Tak ada sedikitpun suara takbir terdengar di sini, tak ada makanan-makanan khas lebaran, tak ada acara kurban. Semua terasa sangat berbeda. Walaupun begitu, aku tetap merasa senang karena bisa merayakannya bersama komunitas muslim yang ada di Bellingham. 

Hari itu, aku memutuskan untuk tidak masuk kuliah. Kupikir-pikir gak apalah, sekali doang, apalagi ini bukan perayaan biasa, ini Idul Adha, salah satu hari besar bagi kami umat Islam. Dan kebetulan saat itu, aku juga mendapat undangan untuk merayakan Idul Adha bersama komunitas muslim disini di Bellingham.

Tepat jam 8.30 aku dan beberapa teman muslim lainnya berkumpul di flag pole depan apartment. Saat itu, ada 2 mobil yang mengantarkan kami ke tempat shalat Id. Awalnya kupikir kami akan shalat di sebuah gedung yang mereka sebut sebagai "Masjid", tapi ternyata kami melaksanakan shalat Id di sebuah bangunan kecil dari kayu yang terletak di tengah taman yang luas. Ketika kami datang, di sana telah banyak orang yang duduk sambil melafazkan zikir. Aku terdiam saat itu sambil berucap dalam hati "Ya Allah terima kasih karena di hari ini Kau memberiku kesempatan merayakan Idul Adha bersama mereka saudara2 sesama muslim dari belahan dunia yang lain". 

Seusai shalat Id, kami duduk dan bersilaturrahmi satu sama lain. Banyak dari mereka yang belum pernah aku temui sebelumnya. Kebanyakan dari mereka berasal dari Pakistan, Mesir dan Arab Saudi. Senang rasanya bisa berkenalan dan ngobrol dengan mereka.

Tak sampai disitu saja. Tepat jam 2 siang, aku dan beberapa teman lainnya kembali mendapat undangan "Potluck" di rumah sebuah keluarga asal Pakistan. Rumahnya terletak di Blaine, kota yang berbatasan langsung dengan Kanada. Tak bisa kulukiskan bagaimana perasaanku berada di tengah-tengah mereka dan merayakan Idul Adha bersama mereka. Setidaknya ada tempat untuk berbagi kebahagiaan di hari itu, walaupun aku tetap merasa tak lengkap tanpa keluargaku.

Happy Ied Al-Adha...:)

Friday, October 8, 2010

My CIS Class


Pagi ini...masih dengan langkah yang sama aku berjalan menuju Baker Hall 102, ruangan yang akan menjadi kelasku selama Fall Quarter ini. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 10.30,  sementara kelasku baru akan dimulai pukul 11.30. Aku cepat sejam rupanya. Kutatap koridor di Hall itu...hening...tak ada seorangpun yang lewat. Kutatap kelas itu dari luar. mmm...sudah 2 minggu aku belajar dikelas itu bersama beberapa orang Amerika tapi aku merasa masih kesulitan beradaptasi dengan cara belajarnya.

Aku ingat...pertamakali memasuki kelas itu, ada perasaan cemas dan canggung karena harus sekelas dengan mereka yang memang tinggal di Amerika, yang menggunakan bahasa Inggris sebagai First Language. Sementara aku...masih dengan bahasa Inggris yang belepotan dan listening skill yang pas-pasan, ditambah lagi, hanya ada 2 perempuan dikelas itu, aku dan seorang teman dari India. Saat itu aku merasa benar2 khawatir. Dalam hati, aku terus menyalahkan diri sendiri Siapa suruh ngambil IT? udah tahu susah…ngga ada dasar….tetap aja ngambil IT! Huft…Nasi sudah jadi bubur…tak ada kesempatan lagi untuk pindah jurusan.

Hari ini…tepat 2 minggu sejak hari itu, semua telah jauh berbeda. Yah…sekarang aku mulai menyukai kelas itu. Benar kata orang “tak kenal maka tak sayang”, karena sudah terbiasa dengan situasinya, akhirnya rasa nyaman itu aku dapatkan juga. Hampir setiap hari aku menjadi satu2nya siswa yang paling cepat datang, dan hampir setiap hari pula “Gary” Instructor-ku selalu tiba disana lebih awal. Tapi tak tahu mengapa hari ini…pintu kelas itu masih tertutup rapat dan lampunya belum dinyalakan.

Setelah menunggu selama 15 menit…akhirnya kulihat Gary berjalan menuju kelas dengan memegang kunci ditangannya. Kutatap laki-laki paruh baya itu…kalo diperhatikan tak ada sedikitpun tanda-tanda bahwa ia adalah seorang teacher; selalu memakai celana jeans dan baju kaos lusuh yang hampir setiap hari dipakainya, ditambah lagi dengan rambut panjangnya yang selalu diikat. Diapun tersenyum dan menyapa “Hi Thya, you come earlier than me today”, aku hanya tersenyum sambil mikir bukannya emang murid yang harus selalu datang duluan daripada gurunya?...hehehe di sini malah terbalik…gurunya yang selalu datang lebih awal. Satu hal yang membuatku selalu ingin datang lebih awal, karena aku bisa punya kesempatan untuk berdiskusi dengan Gary soal tugas2 yang tidak kumengerti, tanpa perlu merasa risih dengan siswa lainnya.

Banyak hal yang kudapatkan selama belajar di kelas itu. Pertama, teman-teman sekelasku yang berasal dari berbagai umur dan dengan gaya yang bervariasi. Dari yang berumur 18 sampai 60 tahun ada di kelas itu, dari yang paling rapi sampai yang paling jorok, dari yang paling pendek sampai yang paling tinggi (hehehe…bukan aku lho yang paling pendek...^_^ ternyata ada yang lebih pendek dari aku), dari yang botak sampai yang gondrong, dari yang hitam sampai yang putih, ada yang tatoan juga, SEMUA ada di kelas itu. And see…! semua bergaul dengan sama rata…tak ada istilah tua dan muda. Aku bahkan salut dengan laki-laki yang berumur 60 tahun itu, walaupun rambut telah memutih, ngomong sudah dak jelas, tapi semangat belajarnya betul2 tinggi, dan tak pernah sedikitpun merasa risih berada diantara anak-anak muda di kelas itu. Salute for him.

Hal lain yang aku rasakan sangat berbeda adalah cara belajarnya yang lebih menerapkan sistem belajar mandiri. Instruktur hanya akan menulis tugas-tugas yang harus dilakukan di papan tulis, mulai dari Lab Activities, Case Projects, Real Problems exercises sampai Thinking Critically exercises. Selebihnya tugas siswa mengerjakannya sampai selesai dengan bantuan buku-buku yang tebalnya bukan main. And you know what? Instruktur hanya akan duduk dan menunggu sampai ada yang bertanya. Jadi kalo gak bertanya…susah sendiri. Gak ada tuh namanya disuapin melulu, guru menjelaskan di depan kelas panjang lebar sampai berbusa, sementara muridnya sibuk sendiri di belakang gak tau ngapain (hehehe…aku banget tuh dulu ^_^). Sangat berbeda….dan aku menyukai perbedaan itu. 

Ada satu lagi hal lagi yang membuatku nyaman berada di kelas itu, yaitu suasana belajar yang santai. Tak ada peraturan yang mengikat, gak boleh ini gak boleh itu. Bisa belajar sambil dengerin musik, browsing semaunya, bahkan boleh bawa bekal dan makan siang di ruangan itu, enak banget kan? hehehe....:) Awalnya sempat merasa heran melihat seorang teman membawa sepotong besar Pizza ke dalam kelas dan kemudian memakannya. Gary yang mungkin sadar kalo aku lagi terheran-heran melihat pemandangan itu, akhirnya datang dan menjelaskan kalo kita boleh bawa bekal dan makan siang di kelas itu, asal gak mengotori kelas katanya.

mmm...beda banget yah sama di Indonesia...^_^

Sunday, October 3, 2010

Jilbabku in Bellingham



Tak terasa akhirnya hampir 2 bulan aku berada di kota kecil ini, tempat dimana aku akan tinggal hingga 10 bulan kedepan.

Bellingham, kota kecil di daerah barat laut Amerika, dengan penduduk kurang dari 100.000. Hal yang membuatku takjub adalah karena bangunannya yang teratur, rumah-rumah dengan desain yang unik (menurutku), dan jalanannya yang sangaaat bersih. "Put your G in Bellingham" kata mereka, tapi sampai sekarang aku tak tahu maksudnya apa.

Anyway, hampir setiap hari aku berjalan menyusuri jalan-jalan disekitar Whatcom College, tempatku menimba ilmu, tentunya masih dengan jilbab yang selalu kukenakan.Mungkin terlihat aneh bagi mereka melihat seseorang sepertiku memakai jilbab, apalagi di daerah yang mayoritas Christian. Sampai saat ini hanya ada dua orang perempuan lainnya yang juga mengenakan jilbab, 1 mahasiswa asal Mesir dan 1 perempuan lagi asal Palestine.

Aku tak tahu apa yang ada dipikiran mereka ketika melihatku memakai jilbab, tapi satu hal yang selalu aku sadari bahwa setiapkali bertemu denganku, mereka melihatku dengan tatapan penuh tanda tanya, dan aku hanya akan berlalu begitu saja meninggalkan mereka dengan kebingungan mereka tentang jilbabku dan kebingunganku tentang apa yg mereka pikirkan.

Menjadi minoritas di Bellingham bukanlah hal yang begitu aku khawatirkan...karena sejauh ini, mereka masih bersikap baik dan ramah ketika bertemu denganku, setidaknya masih ada yang bersedia memberikan senyum indahnya.

Pernah satu waktu...aku dan beberapa CCIP students berjalan-jalan disekitar Fairhaven beach, salah satu tempat rekreasi di Bellingham. Tiba-tiba ada seorang gadis kecil berumur sekitar 4 tahun datang menghampiriku dari belakang dan langsung memegang jilbab yang aku kenakan sambil mengatakan "It's a nice scarf". Aku tersentak, kaget, sambil menoleh kebelakang aku melihat sosok polos itu tersenyum kepadaku. Kemudian ia mengatakan "It's a nicest scarf I've ever seen. I like Blue, just like the ocean". Aku benar-benar takjub saat itu, anak berumur 4 tahun mampu berbicara seperti halnya orang dewasa, dan ia tidak melihatku sebagai orang yang aneh karena memakai jilbab di kepalaku...polos dan bersahaja, itulah anak-anak. Sempat berfikir, kenapa mereka tak melihatku dengan cara yang sama seperti anak umur 4 tahun melihatku? melihatku sebagai orang biasa dan tanpa pandangan negatif.

Bukan itu saja...pengalaman bersama jilbab ini pun bertambah, dan mungkin akan terus bertambah sampai aku pulang nanti:

Aku tinggal di lingkungan apartment yang juga banyak ditinggali oleh orang-orang Amerika. Aku punya tetangga...dua mahasiswa yang juga sedang kuliah di Whatcom College, aku lupa namanya.Umurnya sekitar 18 atau 19 tahun. Walaupun kami tinggal berdekatan, tapi sangaat jarang bertemu. Tapi pernah satu sore tak sengaja kami bertemu tepat di depan apartment...mereka menyapa "Hi, How are you doing", aku hanya bisa senyum dan menjawab "I'm doing well. Kemudian salah satu dari mereka bertanya, "do you like party?" dan aku menjawab "sometimes I like party but not really". Yang membuatku kaget adalah pertanyaan mereka setelah itu "May be we can go sometime, hang-out and drink. Aku termenung...melongo...kebingungan...What? mereka gak lihat aku pake jilbab gini...kok bisa ya ngajak aku minum. Dan akhirnya aku mulai menyadari sesuatu bahwa tak semua orang memandang jilbab ini sebagai sebuah identitas bahwa aku adalah seorang muslim, yang punya batasan khusus dalam bergaul dan bertindak, aku bahkan tak yakin mereka mengerti tentang Islam.

Ada satu cerita lagi yang membuatku tak mampu menahan tawa:

Siang itu, setelah jam pelajaran kedua selesai, aku memutuskan untuk tetap tinggal di Computer Lab bersama beberapa teman, mengerjakan beberapa tugas yang belum kuselesaikan. Kemudian ada seorang teman, laki-laki berumur 34 tahun bertanya kepadaku tentang beberapa tugas yang kurang begitu ia pahami, akupun menjelaskan sedikit yang aku tahu. Dan tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan, ia pun bertanya "Do you have cancer?", karena listening skillku yang masih kurang, aku tak begitu jelas mendengarkan pertanyaannya. "Pardon?" aku memintanya mengulangi pertanyaannya, "Do you have cancer?" (dengan pronounciation yang lebih jelas). Aku bingung, sempat terdiam beberapa detik dan kujawab "No." (ini orang kok nanya aku punya kanker atau ngga? gimana to?). Mungkin karena rasa ingin tahunya yang besar, ia bertanya lagi "So, do you have a problem with your hair?", dan kujawab "No" (ini orang kok pertanyaannya tambah aneh ya). "So why do you wear the headcover?". Dan akhirnya aku mengerti apa yang sebenarnya menjadi pertanyaannya...yah JILBAB ini, jilbab yang aku pakai. Saat itu aku hanya bisa menahan ketawa sambil memegang kepalaku (Jadi ni orang mikir aku botak ya?). Dan akhirnya aku kembali menyadari sesuatu dan bertanya dalam hati "berapa orang dari mereka yang berpikir aku mengidap kanker? jadi tatapan penuh tanda tanya yang selalu aku dapatkan itu, apakah karena mereka pikir aku mengidap kanker?

Jilbab ini ternyata diinterpretasikan dengan cara yang berbeda oleh mereka...