Showing posts with label Words. Show all posts
Showing posts with label Words. Show all posts

Sunday, May 4, 2014

Yang Datang dan Yang Pergi



Kenangan itu seperti memudar terkikis waktu
Jejak yang dulunya tergambar nyata
Kini hilang bagian demi bagiannya

Langkah terhenti beberapa saat
Aku menoleh ke belakang
Berharap wajah-wajah yang ku kenal dulu ada disana
Berharap segala hal yang dulu menyatukan kami juga ada disana

Kosong…berkabut

Kudengar suara-suara samar memanggil namaku
Tanpa seraut wajah pun tergambar

Mereka menjauh atau aku yang menjauh?
Seperti berada di dunia yang berbeda
Kita tak dapat lagi berdiri di jalan yang sama

Aku berbalik…
Terdiam sambil merenung
Aku bertekad dalam hati untuk tak lagi menoleh

Dengan langkah pasti, aku berjalan maju kedepan
Jalan itu begitu nyata dan indah
Wajah-wajah baru menyunggingkan senyum tulus
Tangan-tangan hangat terulur menyambut kedatanganku

Yah…hidup memang harus berjalan ke depan
Masa berganti
Orang-orang pun berubah
Bukan berarti melupakan
Tapi kita takkan bisa hidup dalam masa lalu

Relakan yang pergi!
Sambutlah yang akan datang!


Monday, March 24, 2014

Hanya Disini


Di rumah ini hanya ada kami, segelintir manusia yang bisa dihitung dengan beberapa jari tangan saja. Sepi sudah pasti. Namun kami selalu berusaha melewatkan waktu dengan tak mengeluh. Kesepian sudah menjadi teman setia yang kami anggap tidak menyusahkan sedikitpun, karena kami merasa terkadang di dalam kesepian itulah kami menemukan ketenangan.  Ketenangan  yang tidak akan kami temukan di tempat manapun juga di luar sana.
 
Di salah satu sudut rumah ini adalah tempat favoritku, kamar sempit dengan satu jendela saja. Bagiku, tak ada tempat yang lebih nyaman selain kamar ini. Tempat dimana segala imajinasi tercipta, segala beban terhempas, segala kenangan tertata rapi, dan segala impian terangkai. Ketika tubuh terasa penat, hanya di kamar ini aku bisa dengan nyaman melepas lelah. Hanya di kamar ini bisa kutuangkan segala keluh kesahku ke dalam kata-kata. Hanya disini aku bisa menjadi diri sendiri. Hanya di ruangan sempit ini. Satu-satunya tempat dimana aku bisa merasa lapang dan tak berbatas.
 
Kamar sempit ini menyimpan banyak memori di setiap sisinya. Foto-foto berjejer memenuhi dinding kamar. Kumpulan foto itu kian usang di makan waktu, tapi dari situlah kenangan berulang kali muncul memenuhi pikiran dan perasaan. Terkadang membuat pikiran menerawang membawa ruh melintasi ruang waktu kembali ke masa lampau, dan tak jarang berhasil menyunggingkan senyum di bibir ini. Hanya di ruangan sempit inilah segala kenangan terasa tak pernah usang. 

Hanya disini...


Sunday, January 19, 2014

Jejak yang tertinggal


Aku melangkah dijalan setapak itu. Jalan yang dulu selalu dilalui olehnya dimasa kecilnya dulu. Kupelankan langkahku sambil merenung, mencoba membayangkan apa yang kira-kira terjadi diatas tanah itu puluhan tahun yang lalu. Ya...tepat ditempatku berdiri, mungkin disitulah tempatnya bermain gundu bersama teman-teman kecilnya dulu. Pandanganku lurus memandang kearah masjid yang berada tepat didepanku. Ya...disanalah ia sering shalat dan belajar menghafalkan Al-Quran.

Lorong itu begitu sempit. Mungkin sesempit kenangan yang bisa kubayangkan tentangnya ditanah itu.Tanah yang tak asing tapi tak pernah bisa kusentuh ceritanya. Tanah yang membisu yang menyimpan jejak-jejak hidup seorang anak manusia

Tiba-tiba lamunanku buyar oleh teriakan anak-anak yang berlarian dihadapanku. Mereka begitu riang menikmati masa kecil yang akan mereka rindukan ketika dewasa nanti. Kutatap tanah itu, tanah yang mereka pijak, tanah yang sama yang akan menyimpan jejak masa kecil mereka.Tanah yang menjadi saksi bisu atas hidup mereka.

Langkahku terhenti didepan sebuah rumah kecil yang kini terlihat hampa dan tak terurus. Seorang perempuan tua membuka pintu sambil tersenyum, menyuruhku untuk masuk. Tak ada yang berubah dari rumah itu, yang berubah adalah nenek yang semakin menua. Kunikmati secangkir teh yang disajikannya sambil sesekali bercerita tentang dia yang selalu kami rindukan. Ada airmata yang tertahan dibalik tutur katanya yang melemah.

Kupandangi seluruh ruangan itu dengan hati tak menentu. Foto-foto terpajang rapi didinding lusuh ruangan itu. Mataku tertuju pada satu foto yang menghadirkan kembali memori tentangnya. Ia terlihat gagah dan ceria dengan senyumnya yg mengembang. Dan sekali lagi, hati ini seperti ingin berteriak memanggilnya berharap sosoknya bisa kembali hadir menemani kami diruangan itu.

Sambil menatap seluruh sudut ruangan, aku cemburu.
aku cemburu pada tanah dan dinding itu yang menyimpan banyak cerita tentangnya yang tak kuketahui. Seandainya bisa, ingin rasanya aku mengajak mereka berkisah tentangnya, tentang ayah yang selalu kurindukan.

Wednesday, December 11, 2013

K.A.M.U


Malam ini, untuk kesekian kalinya aku sendiri. Hanya satu hal yang kupikirkan, "Kamu".

Kamu seperti angin yang datang dan pergi merasuki kesepianku.
Aku benci mengakui bahwa aku menyukainya. 
Yah...aku menyukai ketidakjelasan ini.

Malam ini, aku seperti seekor merpati yang tersesat diantara kerumunan camar.
Yang berputar tak beraturan mencoba mencari kamu diantara keramaian itu.
Tapi bayanganmu pun tak ada disana.
Aku tak mengerti apa yang aku rasakan.
Dan sekali lagi aku benci mengakui bahwa aku mengharapkanmu.

Tak ada bintang malam ini...gelap! 
Sama seperti hatiku, tak ada ketenangan disana.
Kuulurkan kedua tanganku ke arah kegelapan itu, 
berharap titik-titik air itu jatuh membasahiku, 
membasuh keresahan yang tidak wajar ini.
Tapi bahkan setetes hujan pun enggan menyapa.
Sama seperti "kamu" yang enggan menyapa dikala sepiku.

Dan dengan lunglainya, pena itupun berhenti menari.


(Losari, December 10th, 2013)

*Baca: Kamu = Inspirasi

Monday, May 6, 2013

Ayah

Ayah...
Kaulah sosok lelaki yang paling aku kagumi didunia ini
Sikapmu yang tegas dan jiwamu yang tegar membuat kami banyak belajar darimu
Kau didik kami dengan kerja keras dan kasih sayang yang tiada pernah berkurang
Hanya untuk satu hal, "Kau selalu ingin membahagiakan kami"

Ayah...

Ingatkah kau sewaktu aku kecil dulu?
Kau latih aku untuk berjalan dan jaga aku agar tak terjatuh
Ingatkah kau sewaktu kau mengajarkanku cara bersepeda?
Kau memegangi sepeda itu dengan kuat untuk memastikan aku tak terjatuh
Kau....tak pernah ingin melihatku terjatuh

Ayah...

Ingatkah kau sewaktu kau memarahiku dulu?
Kau memintaku untuk tak keluyuran kemana-mana
Kau memintaku untuk tak menyebrang jalan seenaknya
Kau memintaku untuk tak pacaran
Aku tahu bahwa sesungguhnya kau hanya tak ingin kehilanganku

Ayah...

Aku ingat saat kau tersenyum bangga ketika mereka memujiku
Aku ingat saat kau mengucap syukur ketika aku akhirnya bisa menginjakkan kaki di negeri itu
Aku ingat saat kau akhirnya mampu melepasku untuk hidup bersamanya
Aku ingat segala hal tentangmu, ayah.

Ayah...

Jika kau disana bisa melihat kami, lihatlah kami dengan senyuman
Jika kau disana bisa mendengarkan kami, dengarlah setiap doa yang kami panjatkan untukmu
Jika kau disana merindukan kami, ketahuilah bahwa rindu kami lebih besar untukmu

Ayah...

Aku tak pernah menyangka kehilanganmu secepat ini,
secepat angin yang membawa helaian dedaunan
secepat pelukan terakhirmu untukku
secepat hembusan nafas terakhirmu malam itu.

Ayah...

Semoga engkau diberikan tempat terindah di sana, di sisiNya.

Wednesday, August 3, 2011

I am from

I am from a country of races and tribes
I am from a city of crowd and traffic
I am from a home of love and respect
I am from a religious and multi-ethnic family
I am from a place where mosque and church located side by side

I am from the clock ringing every one hour
I am from the books of languages and computers
I am from the smell of cigarette and coffee
I am from the diary of stories and memories I am from the pictures of dream and real life

I am from the raindrops that fall from the grey sky
I am from the sunshine that lightens the days
I am from the flowers blooming after cold season
I am from the long river surrounded by mountains and trees
I am from the empty road where dogs bark and cats mew

I am from friends who show me how to smile and cry
I am from teachers who teach me invaluable knowledge and wish me succeed
I am from children who fly the kites every evening trying to reach the sky
I am from strangers who listen to iPods, play guitars, read books, smoke cigarettes, talk on the phone, or stand right beside me silently
I am from homeless people who rely their lives on begging money and taking junk food from the trash cans of any restaurant so they can survive

I am from the songs of the broken heart
I am from the tears of loss and pain
I am from the disappointment of unreachable dreams
I am from the strengh of belief that life is a matter of choice, where I can choose either to fall down and remain silent or start crawling and get up

I am from places where I am supposed to be
I am from what I see, I listen, I smell, I taste, I feel, and I think

Saturday, April 30, 2011

Cerita Hari Ini


Langit pagi ini begitu kelabu...tak seperti biasanya. Kuputuskan untuk tak keluar rumah. Sambil duduk di depan jendela, kulihat beberapa orang sibuk dengan kegiatannya masing2. Anehnya, biasanya kompleks apartmen ini sangat sepi. Tapi hari ini begitu berbeda.
Tepat 20 meter dari jendela apartmenku, ada seorang kakek yang sibuk dengan anjing kesayangannya. Tak ada yang istimewa sebenarnya. Kakek itu menggunakan kursi roda otomatis dan mengikat anjingnya disela-sela penyangga roda itu. Kulihat ia sesekali mengajak anjingnya berbicara, sambil mengusap-usap kepala anjing itu, kemudian menengok ke sekelilingnya tapi tak ada yang peduli. Ia tak tahu aku begitu memperhatikannya dari balik jendela ini.
Sudah hampir 3 hari aku sering melihat kakek itu mondar-mandir didepan apartmentku bersama anjing kesayangannya. Aku tanpa sengaja selalu memperhatikannya. Apa sebenarnya yang dicari oleh kakek itu? dia seperti menunggu sesuatu disana. Dan ketika 2 jam berlalu sejak kedatangannya, ia akan pergi dan berlalu dengan wajah sedihnya. Tak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya, hanya tatapan matanya yg menyiratkan sesuatu, dan anjing itu seolah mengerti arti tatapan itu. hmm...setidaknya ia tak sendiri.
Setelah kepergian kakek itu, pandanganku beralih ka arah seorang nenek yang sibuk menyapu halamannya. Perempuan tua berbaju pink itu tampak anggun. Sesekali bibirnya bergerak seperti sedang menyanyikan sebuah lagu. Aku sempat berfikir orang-orang tua yang tinggal disini begitu kuat dan mandiri. Walaupun umur mereka sudah 80-an mereka masih tetap bisa melakukan pekerjaan apa saja. Bapak tua yang tadi juga, walaupun ia tak bisa lagi berjalan dengan kakinya, ia masih tetap bisa pergi kemanapun ia mau dengan kursi rodanya tanpa ada yang menemaninya selain anjing itu.
Kulihat perlahan-lahan awan hitam itu mulai menjauh berganti dengan langit yang berwarna biru. Seperti yang sudah kuduga Weather Forecast itu salah lagi dalam meramalkan cuaca. Wallahu Alam, hanya Allah yang punya kuasa mengubah segalanya. Dan ketika semangatku kembali muncul, aku bergegas untuk bersiap keluar menikmati cuaca yang bagus, aku tiba-tiba tersadar bahwa tak ada yang bisa kulakukan, aku lupa bahwa aku tak bisa berjalan dengan normal sejak 1 minggu yang lalu. Dan sejak itu yang aku lakukan hanya berdiam diri di kamar mengamati orang-orang yang lalu lalang di depan apartment ini. Kucoba untuk tak bersedih...karena itupun tak ada gunanya. Aku teringat dengan kakek itu, dengan tubuhnya yang lemah dan kakinya yang tak mampu lagi berjalan,  ia masih punya semangat menjalani hari2nya bersama anjing kesayangannya. Huh....setidaknya ia tidak sendiri. Tidak seperti aku yang harus melewati ini seorang diri.
Kuputuskan untuk duduk kembali di depan jendela itu, mengamati mereka yang diluar sana sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Kutatap langit yang cerah itu, semakin lama alam bawah sadarku membawaku mengingat kembali masa-masa yang lalu. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku merasakan senangnya menikmati masa-masa sekolah di SMU, dan sekarang waktu membawaku begitu jauuuhhh...kenegeri paman sam. Sekarang begitu banyak yang kurasakan berubah...tidak terkecuali diriku sendiri. Pengalaman, ujian, dan cobaan itu sedikit banyak telah mengubahku
Suara burung gagak itu menyadarkanku dari lamunanku. Aku tak habis pikir mengapa begitu banyak burung gagak di sini. Aku tak begitu menyukai burung itu. Mungkin karena aku sering melihat di beberapa film bahwa burung gagak adalah burung yang membuat suasana jadi tidak menyenangkan. Entahlah...yang pasti aku tidak menyukainya. Setiap hari mereka terbang diantara pohon-pohon sambil mengeluarkan suara yang kadang memekakkan telinga. Aku merasa burung-burung itu sedang menatapku...seperti menertawakan kesendirianku dan ketidakberdayaanku. Huh...burung itu sepertinya lebih beruntung, mereka tak sendiri
Kupalingkan pandanganku dari burung itu. Sejauh mataku memandang, bisa kulihat sosok seorang anak perempuan kira-kira berumur 5 tahun sedang bermain scooter. Ia begitu menikmatinya. Sambil tertawa lepas, ia mengendarai scooternya semain dekat ke arah apartmentku. Hmmm...aku jadi teringat ketika aku masih seumuran dengannya. Boro-boro pernah main scooter, kenal yang namanya scooter aja nggak. Biasanya aku malah sering main karet, petak umpet dan congklak, sm sekali tak ada yang canggih. Tapi aku bersyukur akan hal itu. Permainan-permainan itu membuatku mendapatkan banyak teman saat itu karena harus dimainkan lebih dari satu atau dua orang. Dan ketika kutengok anak perempuan itu...senyum itu tak lagi kulihat dari wajahnya. Ia sepertiya bosan bermain sendiri. You see! betapa kesendirian sangat tidak menyenangkan meskipun kita punya segala yang orang lain tak punya.
Senja itu akhirnya mulai terlihat, sedangkan orang-orang itu pun tak lagi terlihat . Hari ini kuhabiskan waktuku duduk di depan jendela ini, mencoba merenungi apa yang terjadi disekelilingku. Aku, kakek itu, nenek itu, burung gagak itu, dan anak perempuan itu punya ceritanya masing-masing. Dan cerita itu membuatku mengerti bahwa siapapun kita, kesendirian itu terkadang sangat tidak menyenangkan. Kita akan selalu butuh seseorang untuk berbagi, entah disaat sedih ataupun bahagia.

Cascade Meadows, Apt. 475-303